Edisi terbaru pemeringkatan webometrics akan dirilis pada 26 Januari 2009 mendatang. Ada 16.000 perguruan tinggi di dunia yang ikut dinilai. Mari kita tunggu hasilnya ![]()
Edisi terbaru pemeringkatan webometrics akan dirilis pada 26 Januari 2009 mendatang. Ada 16.000 perguruan tinggi di dunia yang ikut dinilai. Mari kita tunggu hasilnya ![]()
Ada-ada saja! Kisah menggelikan ini tak masuk akal. Namun benar-benar terjadi di Amerika Serikat (AS).
Seorang anggota parlemen di negara bagian Nebraska, AS, Ernie Chambers mengajukan gugatan terhadap Tuhan.
Tentu saja, gugatan itu ditolak pengadilan. Menurut Hakim Pengadilan Distrik Douglas County, Marlon Polk, kasus ini tidak dapat dilanjutkan karena Tuhan tidak bisa dihubungi petugas pengadilan dikarenakan alamat rumahnya tidak terdaftar.
Demikian seperti diberitakan media lokal, Omaha World-Herald, Kamis (16/10/2008).
Gugatan itu telah diajukan Chambers pada September 2007. Chambers menggugat Tuhan karena telah menyebabkan peristiwa kekerasan seperti badai tornado dan gempa bumi, yang telah menimbulkan ketakutan dan menyebabkan “kematian massal, kehancuran, dan aksi teroris jutaan penduduk Bumi.”
Sebelumnya, pengadilan telah mengingatkan Chambers bahwa gugatan itu bakal dibatalkan. Sebab dia tak bisa memberitahu Tuhan soal gugatan itu. Namun Chambers berdalih, Tuhan tak perlu diberitahu karena Dia mengetahui segalanya.
“Karena Tuhan maha mengetahui segala sesuatu, Tuhan pasti juga tahu tuntutan ini,” tutur Chambers yang telah menjadi anggota parlemen Nebraska selama 38 tahun.
Menurut Chambers, maksud gugatannya adalah dia ingin menunjukkan bahwa siapapun bisa punya akses ke pengadilan, baik kaya maupun miskin.
Dengan putusan ini, Chambers belum memutuskan apakah akan mengajukan banding atau tidak. Dia punya waktu 30 hari untuk mempertimbangkannya.
Berita diculik dari detik
Posisi Universitas Indonesia melesat dari urutan 395 tahun lalu menjadi ke 287 dalam peringkat THE-QS 2008 yang baru saja dirilis. Sementatara itu, perbaikan posisi juga berhasil diraih sejumlah perguruan tinggi nasional lainnya. Institut Teknologi Bandung (369 ke 315), dan Universitas Gadjah Mada (360 ke 316).
Tahun ini, Universitas Airlangga berada pada ranking 502, Institut Pertanian Bogor 510, Universitas Brawijaya 511, dan Universitas Diponegoro 529.
Selamat deh dari saya!
Setelah baca entri ini, sepintas saya menelaah peringkat Webometrics versi Juli 2008. Awalnya, tersesat di salah satu blog yang mengulas Universitas Cape Town yang peringkatnya 358. Universitas asal Afrika Selatan ini dalam urusan internet ternyata lebih baik ketimbang banyak perguruan tinggi di Asia termasuk Indonesia.
Berdasarkan ranking Webometrics itu, baru dua perguruan tinggi asal Indonesia yang masuk dalam Top 1000. Universitas Gajah Mada di posisi 819 dan Institut Teknologi Bandung di posisi 826. Universitas Indonesia? Lumayan, sudah naik ke peringkat 1291. :))
Nah, secara tak sengaja juga, saya cek peringkat perguruan tinggi asal Thailand. Kebetulan Universitas Chulalongkorn masuk Top 200 universitas versi THES yang baru keluar 9 Oktober lalu. Saya ingin tahu apakah THES ada tautannya dengan Webometrics? Ternyata, peringkat Chulalongkorn memang cukup bagus yaitu di urutan 444 untuk webometrics.
Saya sedikit kaget waktu periksa peringkat perguruan tinggi asal Thailand. Ternyata ada yang lebih bagus dari Chulalongkorn. Dan hebatnya, sudah ada 9 perguruan tinggi yang berhasil menerobos Top 1000. Malaysia saja yang konon ekonominya lebih baik hanya memasukkan 2 perguruan tinggi saja.
Kok bisa ya?
Times Higher Education baru saja merilis “The World’s Best: 2008″ yang berisi daftar Top 200 universitas di dunia untuk tahun 2008. Sebagai catatan penting, dalam publikasi kali ini, yang tergolong “beruntung” adalah Chulalongkorn University, dari Thailand, yang melonjak peringkatnya dari 223 menjadi 166. Prestasi ini, menemani perbaikan peringkat National University of Singapore dari urutan 33 tahun lalu menjadi ke-30 pada 2008.
Tahun ini, dari Asia hanya 7 universitas yang mengalami perbaikan posisi. University of Science and Technology of China (155 ke 141), Shanghai Jiao Tong University, China (163 ke 144), Osaka University, Japan ( 46 ke 44), Korea Advanced Inst of Science & Technology (132 ke 95), Seoul National University University ( 51 ke 50 ) , Pohang University of Science and Technology, South Korea ( 233 ke 188) dan Tokyo Institute of Technology Japan (90 ke 61).
Secara keseluruhan, tahun ini ada 21 universitas asal Asia yang bertengger di 200 besar. Tentu saja, dari daftar tersebut belum satu pun universitas asal Indonesia yang beruntung. Ayo, siapa mau duluan? ![]()
Beberapa ulasan tentang badai krisis finansial yang menyapu AS sudah bermunculan di koran nasional. Hari ini Prof. Sri Edi Swasono menulis dengan judul The End of Laissez-Faire di Jawa Pos. Menurutnya, kekacauan sekarang diakibatkan kerakusan kapitalisme.
Kemarin, koran Kompas menurunkan tiga tulisan opini sekaligus: Krisis Lembaga Keuangan AS, Ketatnya Likuiditas, dan Inflasi, Meletusnya Gelembung Hampa, dan Neoliberalisme Kena Batunya. Tulisan terakhir menyatakan, neoliberalisme kini terpojok dan Pemerintah Amerika Serikat menghadapi dilema dalam mengatasi krisis keuangan terberat setelah depresi besar pada tahun 1930-an itu.
Banyak yang melihat masa depan suram akibat krisis AS. Tapi, bagi sementara pihak, krisis saat ini bahkan tak akan sehebat pada 1930-an. Gary Becker, peraih nobel ekonomi, menulis di blognya bahwa krisis sudah biasa menyertai perjalanan kapitalisme. Ia percaya ekonomi akan pulih kembali pascakrisis seperti ditunjukkan Korea setelah krisis 1997.
Tulisnya:
“Is this the final “Crisis of Global Capitalism”- to borrow the title of a book by George Soros written shortly after the Asian financial crisis of 1997-98? The crisis that kills capitalism has been said to happen during every major recession and financial crisis ever since Karl Marx prophesized the collapse of capitalism in the middle of the 19th century. Although I admit to having greatly underestimated the severity of this financial crisis, I am confident that sizable world economic growth will resume under a mainly capitalist world economy. Consider, for example, that in the decade after Soros’ and others predictions of the collapse of global capitalism following the Asian crisis in the 1990s, both world GDP and world trade experienced unprecedented growth. The South Korean economy, for example, was pummeled during that crisis, but has had significant economic growth ever since. I expect robust world economic growth to resume once we are over the current severe financial difficulties.”
Apakah kapitalisme benar-benar akan tenggelam kali ini? Tampaknya semua masih harus bersabar karena perlu waktu panjang untuk menemukan pembuktiannya.