Tak terasa kita telah memasuki tahun baru 1430 Hijrah. Sayang, terasa begitu sepi, dan senyap. Tidak begitu nampak semangat dan gairah untuk menyambutnya. Begitu jugakah dengan kondisi hati kita saat ini? semoga saja tidak demikian..Semoga saja momentum ini menjadi sarana untuk melakukan perbaikan dan perubahan, baik dalam diri, keluarga maupun masyarakat. Jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang “ghurur”, yaitu orang-orang yang telah tertipu oleh dirinya sendiri. Yang menyangka telah banyak berbuat, dengan begitu banyaknya kesibukan dan aktifitas kita. Padahal pada kenyataannya begitu miskinnya nilai amal kita, hati kita begitu jauh dari keikhlasan dan semangat memperbaiki diri. Keluarga kita, suami, istri dan anak-anak kita yang seharusnya senantiasa kita bimbing dan kita sirami dengan benih-benih ketaqwaan, seringkali terabaikan oleh kesibukan-kesibukan kita.
Tahun demi tahun berjalan, jangan sampai kita mendapati ternyata kualitas iman kita tak pernah berubah, kualitas ibadah harian kita pun masih disitu-situ saja, bahkan makin hari makin terkikis baik kuantitas apalagi kualitas. Jangan sampai lembaran-lembaran Qur’an pun sudah mulai terasa jarang kita sentuh dan kita baca apalagi untuk kita renungi. Jangan sampai shalat-shalat kita makin terasa hambar dan tak berjiwa. Hingga hari-hari kita dengan Yang Maha Rahman terasa makin berjarak. Ya Allah, padahal saat-saat perjumpaan itu sudah makin dekat…
Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kelalaian kita, serta melimpahkan kepada kita kekuatan agar senantiasa mampu memperbaiki setiap kesalahan dan kelalaian pada diri kita dan keluarga kita, untuk kemudian menata langkah-langkah kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Semoga Allah melimpahkan kekuatan dan pertolongannya kepada saudara-saudara kita dimanapun berada, yang saat ini sedang tertimpa musibah, dihantam kedzaliman dan penindasan, terancam kelaparan, kesengsaraan dan kesempitan hidup, tergusur tak berdaya serta tercerabut hak-hak kemanusiaannya.
Semoga selalu ada do’a dan sedekah kita yang senantiasa mengalir; ada uluran tangan yang tulus dan ikhlas yang senantiasa kita upayakan. Allahumanshurhum ya Allah..
Selamat datang tahun baru 1430 hijrah
Mari kita sambut masa depan yang lebih baik.
Hari ini mailbox saya kebanjiran email yang berisi file tugas kuliah dari para mahasiswa saya. Tadi malam adalah deadline dari tugas yang saya berikan kepada mahasiswa peserta matakuliah Keamanan Jaringan. Padahal seharusnya tidak ada satupun pekerjaan mahasiswa yang boleh dikirimkan ke mailbox email pribadi saya. Sebenarnya saya sudah menyediakan mekanisme upload melalui Web eCourse yang saya kelola di website departemen Elektro. Disanalah seluruh matakuliah yang saya ajarkan dikelola melalui website ini sehingga resources-nya dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa terikat oleh dimensi waktu dan tempat. Selain itu saya juga dengan mudah dapat mendokumentasikan setiap perkuliahan yang saya berikan pada tiap semester.
Pertanyaannya adalah kenapa hari ini mailbox saya demikian penuh dengan file tugas-tugas mahasiswa? rupanya pada saat deadline tugas matakuliah ini kondisi jaringan di kampus sedang mengalami masalah alias “down”. Entah sedang dilakukan “maintenance” rutin atau memang sedang mengalami trouble. Sebelum hari tsb sebenarnya proses upload dapat dilakukan dengan baik karena kondisi jaringan di kampus dalam keadaan normal.
Pertanyaan berikutnya, kenapa baru pada saat deadline mereka mengumpulkan tugas? hehe.. Nah ini memang unik.
Konon katanya berapapun lamanya kita memberikan waktu deadline kepada mahasiswa untuk suatu tugas kuliah, bisa dipastikan mereka akan mengumpulkan tugas pada detik-detik deadline.
Artinya walaupun waktu yang diberikan berminggu-minggu sebenarnya seluruh energi baru akan mulai menggerakan pikiran dan tubuh pada 1-2 hari menjelang deadline, atau bahkan 1 malam sebelum deadline. Ada yang mengatakan bahwa adrenalin akan bekerja secara optimal pada saat-saat menjelang deadline. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa menjelang deadline adalah saat-saat yang paling kondusif untuk mendapatkan berbagai ide dan inspirasi. Nah lho…???
Tadinya saya tidak terlalu percaya mengenai hal ini, apalagi saya biasanya memberikan batas waktu yang lumayan memadai untuk sebuah tugas kuliah. Bahkan seringkali saya mengambil kesepakatan bersama dengan para mahasiswa saya di kelas, sehingga diperoleh waktu yang paling sesuai dengan kesanggupan mereka karena saya sangat memahami bahwa mereka tentu juga dibebani dengan berbagai macam tugas dari matakuliah lainnya yang mereka ikuti.
Kalaulah tugas mereka dikumpulkan sebelum deadline. Tentu mailbox saya tidak akan kebanjiran email tugas seperti hari ini…:-(
Sungguh, sebaik-baik mukmin adalah yang apabila berbuat kekhilafan dan kemaksiatan sekecil apapun dia akan bersegera untuk memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT. Seorang mukmin harus memiliki kemampuan melakukan “deteksi dini” terhadap kondisi keimanan dirinya, yaitu kepekaan untuk merasakan bahwa imannya sedang mengalami penurunan (futur). Apabila tidak demikian, biasanya dia akan semakin larut dalam kefuturannya. Disinilah pentingnya lingkungan yang dapat menumbuhkan energi positif untuk terus menjaga kestabilan iman seorang mukmin. Diperlukan suasana yang kondusif untuk menstabilkan kembali iman seorang mukmin, termasuk di dalamnya suasana untuk saling mengingatkan dan saling menasehati sesama saudara seiman dikala melihat saudaranya mulai ada “indikasi” degradasi iman. Semoga Allah memberikan kekuatan agar kita tetap istiqamah hingga kelak kembali kepada Allah dengan husnul khatimah.
Kejujuran saat in sepertinya sudah menjadi barang yang langka. Bahkan ada yang mengatakan, kalau anda berbisnis jangan coba-coba bawa kejujuran deh, bisa-bisa ngga akan untung… nah lho!
Gerakan antikorupsi yang saat ini bergulir perlu kita sambut dengan langkah-langkah nyata. Bahkan kini banyak sekolah yang menindaklanjutinya dengan mendirikan “Warung atau Kantin Jujur”. Konon hingga saat ini sudah berdiri lebih dari 2700 Kantin Jujur di seluruh Indonesia. Sebuah fenomena yang menarik karena kantin ini dibiarkan tak dijaga alias self-service. Transaksi dilakukan hanya melalui kotak uang yang disediakan disana. Setiap anak membayar sesuai barang yang dibeli dan mengambil kembalian sesuai dengan jumlahnya. Bahkan kalaupun berhutang, mereka tinggal menuliskan di notes yang tersedia. Hmm…luar biasa. Program ini menjadi bagian dari mataajaran Pendidikan Antikorupsi yang diadopsi dalam kurikulum sekolah. Hasilnya cukup efektif, karena saat ini tingkat kejujuran bertransaksi di Kantin Jujur sudah mulai dirasakan oleh pihak sekolah.
Walaupun ada yang menganggap bahwa program Kantin Jujur ini terlalu mensimplifikasi persoalan ketidakjujuran yang sudah menggurita di masyarakat, namun hal ini menurut saya perlu diapresiasi. Setidaknya mulai ada langkah-langkah serius dari sekolah-sekolah untuk memulai gerakan antikorupsi sedini mungkin dengan membuat Laboratorium Kejujuran melalui Kantin Jujur ini. Tentu saja, program Kantin Jujur ini bukan satu-satunya cara untuk menerapkan pendidikan antikorupsi. Semoga gerakan pendidikan antikorupsi ini juga mulai diikuti di berbagai tempat, di instansi pemerintah dan swasta, bahkan juga di kampus2 universitas agar para mahasiswa dan dosennya pun selalu menjunjung tinggi etika dan kejujuran akademik.
Banyak orang yang merasa dirinya sedang belajar, namun tidak semua orang mengerti kenapa dia harus belajar dan untuk apa dia belajar. Adapula orang yang merasa dirinya belajar, namun sesungguhnya dia tidak pernah belajar…
Sesungguhnya, belajar membuat seseorang menjadi berdaya tahan terhadap apa pun yang menimpanya. Karena dia bisa memaknai apa yang dialaminya sebagai bagian dari skenario yang sedang disiapkan Allah untuk menjadikan kualitas dirinya menjadi lebih baik.
Sebaik-baik orang yang berilmu adalah yang mampu menjadikan ilmunya berguna (’ilman naafi’an). Menjadi berguna bukan dari seberapa banyak yang kita tahu, tetapi seberapa banyak dari yang kita tahu itu berbuah amal yang bermanfaat bagi kebaikan dan kemaslahatan ummat.
Semoga Allah senantiasa memasukkan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang memiliki semangat belajar dan juga semangat beramal nyata. Dengan belajar sesungguhnya kita akan makin peka terhadap kesalahan yang pernah kita buat, sehingga kita akan menjadi lebih baik dan lebih berhati-hati dalam menapaki perjalanan hidup ini. Dengan beramal nyata, kita akan menjadi hamba yang dicintai Allah, karena Allah sangat mencintai orang-orang yang tidak sekedar menempatkan iman pada lisannya saja.
“Kaburo maqtan ‘indallahi an taquuluu ma laa taf’aluun”
Sungguh kemurkaan yang besar disisi Allah, terhadap orang-orang yang mengatakan apa-apa yang tiada diperbuatnya…
Bogor, Dzulhijjah 1429
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Dec | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | |