Posts Tagged ‘e-Learning & HCI’
The Use of E-Learning towards New Learning Paradigm
Written by harrybs on May 7, 2008 – 9:53 am -Judul: The Use of E-Learning towards New Learning Paradigm: Case Study Student Centered E-Learning Environment at Faculty of Computer Science - University of Indonesia
Faculty of Computer Science (Fasilkom), University of Indonesia (UI) develops Student Centered E-Learning Environment (SCELE) for Graduate Program in Information Technology as part of Distance Learning system, which is developed using Enterprise Resources Planning approach. SCELE is also well known as Learning Management System (LMS). Beside SCELE, Fasilkom UI also develops Contents that are conformant with SCELE, and also Digital Library and Online Academic Registration System to support learning process. This paper elaborates the study of SCELE, content development, and the result of system evaluation.
Tags: e-Learning & HCI, Fasilkom UI, LMS, SCELE
Posted in Abstrak Makalah | 2 Comments »
Babak Baru e-Learning
Written by harrybs on May 6, 2008 – 11:19 am -Like the web itself, the early promise of e-learning - that of empowerment - has not been fully realized. The experience of e-learning for many has been no more than a hand-out published online, coupled with a simple multiple-choice quiz. Hardly inspiring, let alone empowering. But by using these new web services, e-learning has the potential to become far more personal, social and flexible.
Demikian dikatakan Steve O’Hear di Guardian. Bila kita kembali kepada pengertian e-Learning yang seringkali direpresentasikan dalam bentuk Learning Management System (LMS), memang terasa bahwa LMS membatasi siswa untuk berkomunikasi hanya dengan siswa sekelas. Ya, siswa sekelas. Hal ini bisa dimaklumi berhubung penggunaan LMS sebagian besar hanya digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran online yang dibatasi oleh administrasi akademik institusi pendidikan. Siapa yang telah melakukan administrasi, dia boleh ikut. Lainnya tentu tidak bisa terlibat. Hatta untuk mengakses bahan ajar sekalipun.
Stephen Downes menyebut babak baru e-Learning dengan istilah “e-Learning 2.0”. Menurutnya e-Learning 2.0 memilih pendekatan ’small pieces, loosely joined’ yang mengkombinasikan penggunaan tools dan berbagai layanan yang bersifat diskrit namun juga melengkapi, seperti blog, wiki, serta perangkat lunak lain yang mendukung terciptanya komunitas pembelajaran yang bersifat ad-hoc.
Patut diakui bahwa dunia maya saat ini telah dibanjiri blog. Tak hanya blog yang biasanya berisi ungkapan perasaan penulisnya, entah puisi atau uneg-uneg, tapi juga blog yang sengaja didisain khusus penulisnya untuk berbagai pengetahuan yang bersifat ilmiah. Tak ayal, banyak juga orang dengan serta merta, tanpa banyak pikir langsung saja menjadikan blog sebagai salah satu referensi penulisan.
Selain blog, Wikipedia pun kini semakin sering dijadikan rujukan. Sebenarnya sedari awal, baik blog maupun Wikipedia memang tidak dikembangkan untuk memfasilitasi pembelajaran online, namun perkembangan keduanya secara perlahan dan tidak langsung dapat membantu masyarakat belajar secara fleksibel dan memiliki jaringan yang lebih luas.
Blog & Wiki: Fenomenal & Sumber Rujukan
Sejak kemunculannya, blog berhasil memikat hati pengguna Internet untuk memilikinya. Blog sendiri merupakan singkatan dari Weblog. Pertama kali istilah ini digunakan Jorn Barger tahun 1997. Weblog berarti sebuah aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan atau publikasi berisi pemikiran seseorang. Sebagian blog dikelola oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa kontributor.
Perkembangan fenomenal blog mulai terjadi pada tahun 1999. Saat itu perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan Blogger.com. Layanan ini memungkinkan siapa saja dapat membuat blog-nya sendiri hanya dengan bermodal pengetahuan dasar tentang HTML. Hingga saat ini jumlah blog telah mencapai lebih dari 4.000.000 buah. Bayangkan saja, tercatat pertumbuhan blog dari 1 hingga 4.000.000 blog dalam rentang waktu 5 tahun sejak 1999 hingga 2004. Bahkan menurut Duncan Riley dari The Blog Herald, pada April 2005 jumlah blog telah mencapai 50.750.000 buah! Sungguh fantastis.
Fenomena meledaknya blog setidaknya dapat dipahami dari dua kelebihannya berikut ini dibandingkan media publikasi lainnya, yaitu spesifik dan fleksibel. Keunggulan ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa blog pada dasarnya bisa mengandung isi mengenai kehidupan atau pemikiran pribadi seseorang. Blog juga dikembangkan untuk mengakomodasi hal-hal yang fokus pada bidang atau komunitas tertentu, misalnya komunitas pecinta motor besar, komunitas pecinta binatang peliharaan, komunitas pendidik, dsb. Selain itu, kontributor atau pemiliki blog dapat meng-update blog kapan saja ia mau. Berbeda halnya dengan media lain yang harus mengikuti jadual publikasi yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Wikipedia merupakan ensiklopedia online multibahasa yang disusun agar dapat dibaca dan diedit oleh siapapun juga. Tak kurang dari ratusan ribu bahkan jutaan artikel ada dalam situs ini. Jumlah artikel terbesar saat ini adalah berbahasa Inggris dengan total lebih dari 1.711.000 artikel. Diikuti jumlah artikel berbahasa Jerman lebih dari 563.000 artikel. Sementara Indonesia sendiri menyumbangkan artikel tak kurang dari 52.815 artikel.
Wikipedia bermula sebagai proyek sampingan Nupedia, ensiklopedia bebas online yang artikelnya ditulis oleh para ahli. Larry Sanger, yang mendirikan Nupedia bersama dengan Jimmy Wales, melontarkan ide mengenai ensiklopedia berbasis wiki pada 10 Januari 2001 di milis Nupedia. Lima hari kemudian Wikipedia-pun resmi diluncurkan.
Wiki sendiri berarti siapa saja, artinya kita pun bisa mengedit naskah yang ada dalam Wikipedia. Inilah yang menjadi keunikan Wikipedia, walaupun bisa dibilang sebagai celah kelemahan. Komunitaslah yang akan menjadi ujung tombak kevalidan dan keaktualan sebuah naskah.
Pendidikan: Orientasi Baru Layanan Web
Blog pada dasarnya tidak hanya digunakan untuk publikasi yang sifatnya fun, namun juga dapat dimanfaatkan untuk aktifitas yang boleh dibilang ’serius’, katakanlah untuk dunia pendidikan. Tugas penulisan paper adalah tugas sehari-hari mahasiswa. Bahkan di tingkat sekolah menengah, tugas semacam ini sudah mulai digalakkan. Blog dapat dijadikan media yang sangat efektif untuk mempublikasikan hasil karya berupa tulisan ilmiah, baik berformat ilmiah maupun popular. Dengan harapan banyak pengunjung dapat membacanya ataupun memberikan respon.
Bagi Wikipedia, saat ini yang menjadi tantangan adalah sudah mampukah dijadikan referensi untuk keperluan publikasi ilmiah? Diskursus ini menjadi penting mengingat dari segi kuantitas semakin banyak orang menggunakan referensi dari ensiklopedia ini. Namun dari segi kualitas kita masih bisa berdiskusi tentang layak tidaknya dijadikan referensi publikasi ilmiah. Memperhatikan mekanisme yang ada di Wikipedia, akan kita pahami bahwa tingkat validitas isi akan sangat bergantung pada ukuran lama tidaknya sebuah artikel muncul di Wikipedia.
Aspek validitas isi menjadi penting dalam babak baru e-Learning. Dalam era ini siapapun berhak berkontribusi terhadap makna. Tak lagi 100% bergantung pada expert. Cara termudah menimbang validitas isi dari blog adalah mencari tahu track record penulis ataupun lembaga pemilik blog. Seberapa besar kompetensinya. Sementara, menimbang validitas isi dari Wikipedia dapat dilakukan dengan mengukur seberapa lama suatu makna ada di dalamnya. Hal ini akan menjadi ukuran bagi kita tentang besarnya kemungkinan berbagai pihak yang melakukan review, editing, bahkan sanggahan.
Babak baru e-Learning telah tiba. LMS sudah saatnya mengakomodasi dengan berbagai layanan yang mendukung.
Tulisan ini juga dimuat di Kolumnis.com
Tags: babak baru, blog, e-Learning & HCI, wiki
Posted in e-Learning & HCI | 7 Comments »
Makin Kokohnya Open Source LMS
Written by harrybs on May 6, 2008 – 11:13 am -Bingung. Itulah perasaan saya yang sempat hinggap ketika membuka situs WebCT. Ya, kini situs tersebut sudah dialihkan ke Blackboard. Kok bisa? Rupanya mereka merger.Sebenarnya mergernya perusahaan kenamaan ini sudah terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Tepatnya 12 Oktober 2005. Salah satu keputusannya perusahaan akan menggunakan bendera Blackboard. Dampaknya perusahaan akan memiliki lebih dari 3.700 klien, memiliki sekitar 800 pegawai, dan 7 kantor yang tersebar baik di Amerika Serikat dan luar negeri. Tentunya data ini nampaknya sudah berubah berhubung saya menggunakan data lama dari press release merger.
Blackboard dan WebCT memang bukan perusahaan kemarin sore. Blackboard sendiri merupakan salah satu perusahaan terdepan dalam enterprise software dan layanan di industri bidang pendidikan. Produknya terdiri dari beberapa aplikasi software yang dikemas dalam dua suites: Blackboard Academic Suite dan Blackboard Commerce Suite. Selain memiliki kantor utama di Washington, Blackboard memiliki dengan kantor dan staff yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia (blackboard.com).
Sementara itu, WebCT memberikan lingkungan pembelajaran online yang sangat fleksibel. Banyak institusi pendidikan termasuk universitas di berbagai belahan dunia, baik dari komunitas maupun universitas skala besar menggunakan WebCT untuk memfasilitasi proses belajar mengajar.
Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah apa yang menjadi motivasi sehingga dua perusahaan besar ini mengambil langkah besar pula untuk melakukan merger?Adakah faktor kompetisi yang sedemikian hebatnya saat ini? Boleh jadi ya!
Pada dasarnya merger akan menambah ’kekuatan’ bagi yang melakukannya. Tambahan sumber daya, tambahan klien, juga makin kencangnya realisasi riset. Tentunya ini secara tidak langsung menunjukkan pada kita bahwa tantangan di luar semakin keras. Salah satu tantangan yang sedemikian jelas adalah semakin menjamurnya pemain-pemain lain yang berada di jalur open source.
Tidak dapat dipungkiri penelitian di bidang e-Learning adalah penelitian lintas bidang. Penelitian inilah yang menjadi ujung tombak berkembangnya e-Learning. Bidang ilmu yang dominan adalah ilmu komputer, psikologi, serta pendidikan. Walaupun memang tidak menutup kemungkinan ikut sertanya bidang-bidang lain. Kini sudah tidak bisa lagi domain e-Learning diklaim milik bidang pendidikan saja. Begitu pula bidang-bidang yang lain.
Open Source vs Proprietary LMS
Secara umum dalam mempersiapkan sistem e-Learning dalam suatu organisasi, katakanlah institusi pendidikan, terdapat beberapa pilihan yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, mengembangkan sendiri. Dengan menjatuhkan pilihan pada pilihan ini, institusi perlu memiliki tim untuk pengembangan sistem. Disini benar-benar akan digunakan konsep manajemen proyek dimana alokasi sumber daya manusia (mulai dari manajer proyek, system analyst, business analyst, system architect, system developer, tester, hingga documentator), alokasi biaya dan waktu diatur sedemikian rupa sehingga requirements dapat dicapai sesuai target. Pilihan metodologi pengembangan dan teknologi yang akan digunakan merupakan ‘hak prerogratif’ tim pengembang dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang ada.
Kedua, membeli sistem yang sudah ada. Salah satu hal yang bisa digunakan untuk menebak mengapa suatu organisasi membeli aplikasi perangkat lunak atau perangkat keras adalah tersedianya anggaran yang dimiliki serta berbagai pertimbangan seperti kemudahan, khususnya pendeknya waktu implementasi serta layanan pascaimplementasi. Namun yang perlu diperhatikan dari pilihan ini adalah seringkali fasilitas yang ada terlalu kompleks dari apa sebenarnya yang dibutuhkan organisasi yang bersangkutan.
Ketiga, menggunakan open source e-Learning system. Saat ini telah terdapat beberapa sistem e-Learning berbasis open source seperti Moodle, Dokeos, Sakai, Claroline, ATutor dan yang lainnya. Jelas, bagi organisasi yang akan memanfaatkan software ini tidak perlu membayar. Lisensi yang digunakan biasanya adalah GPL atau GNU. Effort yang perlu kita lakukan ketika memutuskan menggunakan sistem ini adalah, kita perlu mempelajari dokumentasi program, bahkan kalau perlu algoritma-algoritma yang digunakan. Tidak adanya layanan pascaimplementasi berarti menuntut penggunanya untuk terlibat aktif dalam milis-milis atau memperhatikan bug-bug yang mungkin ditemukan dibelakang hari.
Keempat, melakukan kustomisasi. Melakukan kustomisasi artinya memanfatkan kembali modul-modul yang tersedia, baik itu dikembangkan sendiri, dari software open source ataupun dengan cara membeli dengan tujuan untuk dapat dimodifikasi sesuai requirements yang dibutuhkan organisasi.
Dari keempat pilihan di atas, pilihan kedua dan ketigalah yang paling banyak diambil. Menjatuhkan pilihan pada yang pertama, sama artinya masih perlu mempertimbangkan landasan pengembangan, sumber daya yang akan dilibatkan, waktu, tak terkecuali biaya. Begitu pula pada pilihan keempat, walaupun disini skalanya lebih kecil.
Open Source: Tak kalah canggih
Rata-rata perusahaan besar yang tertarik mengimplementasikan e-Learning menggunakan proprietary LMS. Selain karena tersedianya dana yang cukup untuk investasi di bidang ini, vendor memberikan layanan maintenance yang sangat memuaskan. Apalagi fitur-fitur yang disediakan. Namun bukan berarti bahwa LMS berbasis open source kalah saingan. Tinjauan kelengkapan fitur hingga perbandingan fitur antar LMS bisa kita lihat di situs EduTools.
Konon Moodle, salah satu open source LMS, sudah di-download puluhan ribu kali di seluruh dunia. Beberapa LMS diantaranya bahkan ada yang di-download ratusan bahkan ribuan kali sehari. Bisa dibayangkan. Saat ini Moodle juga sudah memiliki pengguna teregister sebanyak ratusan ribu yang tersebar di 196 negara. Penggunaannya tidak hanya untuk keperluan pribadi, tetapi hingga universitas dengan jumlah siswa 200.000an! Tak hanya itu, sistem ini juga tidak dikembangkan ala kadarnya. Ada landasan teori maupun tinjauan pedagogi yang cukup kental. Selain Moodle, Anda bisa membandingkannya dengan open source LMS lain.
Di Indonesia sendiri, sudah banyak institusi pendidikan dan komunitas yang menggunakan opensource LMS. Selain gratis, implementasinya terhitung cepat. SMU 1 Muhammadiyah Yogyakarta adalah salah satu contoh bagaimana e-Learning sudah diimplementasikan di tingkat sekolah menengah berbekal open source LMS. Selain SMU 1 Muhammadiyah, pastinya ada sekolah-sekolah lain yang punya sistem semacamnya.
Model bisnis bagi yang bergerak di open source LMS pun bermacam-macam. Mulai penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi. Sangat menggiurkan bukan?
Anda ingin menerapkan e-Learning di lingkungan institusi Anda? Pilihannya sudah di tangan, apakah akan menggunakan proprietary software atau cukup yang berbasis open source. Semuanya kembali pada tingkat kebutuhan kita tentunya.
Tulisan ini juga dimuat di Kolumnis.com
Tags: e-Learning & HCI, LMS, Open Source
Posted in e-Learning & HCI | 5 Comments »

